Kata – kata favorit dari Novel Tere Liye

Dari puluhan buku tere liye, serial ini adalah mahkotanya. Buku ini mengajarkan banyak hal dalam kehidupan. Mengajarkan tabiat yang baik, mengajarkan ibadah, pendidikan, etik moral, menghargai kehidupan , menghargai alam, menghargai orang tua . Juga mengajarkan anak anak agar mempunyai mimpi mimpi hebat, mengingat asal muasalnya,kejujuran sangat penting dalam setiap kehidupan . Orang orang yang bersungguh sungguh jujur, menjaga kehormatannya, dan selalu berbuat baik kepada orang lain, maka meski hidupnya tetap sederhana, tetapi terlihat biasa-biasa saja, maka dia sejatinya telah menggenggam seluruh kebahagiaan dunia

Banyak kisah kisah menarik di buku ini. Banyak ribuan kisah lain yang menginspirasi. Kita membutuhkan kisah – kisah ini untuk mendidik anak – anak kita, agar besok lusa, anak anak kita menjadi anak yang jujur, berani, kuat, dan memiliki seluruh tabiat baik lainnya. (Anak Cahaya)

1. Anak Cahaya

“Tentu saja tidak enak.  Tapi dimarahi juga tidak enak.”

“Sekarang lebih baik kau tidur, supaya besok tidak kesiangan.  Singkirkan buruk sangka, seolah Mamak berkurang sayang pada kau karena kelahiran Unus.  Ingat-ingatlah Mamak pernah menantang Kakek Jabut berkelahi karena membela kau.” (hal 226)

  1. Kau jangan berpikir terlalu jauh Nung. Jimat Mamak adalah rasa cintanya. (Hal 159)
  2. Itu perbuatan sirik, anak – anak. Menyekutukan Allah, dosa besar, sungguh sebuah dosa besar. (hal 165)
  3. “Oi, lepaskan semua jimat kalian. Kalian bukan hendak menakut-nakuti hantu.  Kalian lebih mirip tukang masak, ke mana – mana membawa bumbu dapur.  Badrun, kau kumpulkan semua.  Nung, kau bantu Badrun.” (Hal 167)
  4. Buat apa kalian mengaji kalau masih menduakan Tuhan ? Kalian pikir semua bumbu dapur itu bisa melindungi dari marabahaya ? Kecuali marabahaya kelaparan, itu mungkin masuk akal bisa diatasi bumbu dapur.  Sekarang mari kita baca Surah Al-Ikhlas.  Lantangkan dengan lisan, pahami dengan otak, maknai dengan hati. Kami semua berdiri melingkar memenuhi ruang tengah berta’awudz, lantas membaca bersama Surah Al-Ikhlas.  Sebelum kegiatan mengaji diakhiri, Kakek Berahim memberikan maklumat keapda kami.  “ Sebelum mengaji besok malam, bagi yang masih bau bumbu dapur, tidak boleh ikut mengaji.” (Hal 167-168)
  5. Kau beruntung Mamak masih marah. Itu tandanya mamak masih sayang. Coba kalau Mamak diam saja, tidak peduli lagi.  Kau bangun sampai zhuhur, Mamak diam.  Kau menumpahkan panci lauk, Mamak diam. Enak seperti itu ?
  6. Bisa jadi karena tahun kemarin kita tidak pandai bersyukur. Zakat tidak dibayarkan, masjid banyak sepinya, takhayul tumbuh subur, jimat ada dimana-mana.  Karena itu Tuhan menegur kita dengan sedikitnya hasil panen.” (hal 248)
  7. Sudah menjadi tanggung jawab Bapak dan Mamak untuk memenuhi keperluan rumah kita, Nurmas. Menjadi kuli pasar misalnya, itu bukan pekerjaan hina. Ini juga pekerjaan mulia.  Jangan keliru melihatnya.  Sungguh jangan.  Saat kau menyaksikan mamak kau cemong oleh kotoran kerbau, itulah bukti betapa besar kasih sayangnya pada kau (hal 299)
  8. Berdagang bisa jadi salah satu caranya, Nung. Seperti saudagar, mereka membawa kerajinan tangan, permadani.  Menjualnya di tempat lain, kemudian pulang membawa rempah-rempah, minyak wangi.  Berdagang adalah cara cepat mendapatkan uang (hal 302)
  9. “Kau hebat sekali, Nak”. Bapak meraihku, memelukku erat-erat. Mamak juga memelukku erat-erat. “Lihatlah malam ini kau datang bermandikan cahaya, Nak.  Hebat sekali.  Sejatinya itulah arti namamu.  Nurmas, si Anak Cahaya.  Malam ini kau telah menyelamatkan seluruh kampong. Aku terisak  Ya Tuhan, terima kasih.  Sungguh terima kasih.  Perjalananku menuju kota kabupaten akhirnya berhasil.  Aku pun bisa kembali ke kampungku membawa pertolongan. (hal 409)
  10. Inilah pendekar yang kumaksud. Pendekar yang telah membela saudaranya dengan gagah berani, layaknya harimau. (hal 415)

 

2. Si Anak Pemberani (Eliana)

 “Aku Eliana, si anak pemberani,

Anak sulung Bapak dan Mamak

Yang akan menjadi pembela

Kebenaran dan keadilan.

Berdiri paling gagah,

Paling depan.”

  1. Bapak menatap Burlian. “Oi, suatu saat kau akan mengerti kalimat ini. Jangan pernah bersedih ketika orang-orang menilai hidup kita rendah.  Jangan pernah bersedih, karena sejatinya kemuliaan tidak pernah tertukar.  Boleh jadi orang-orang yang menghina itulah yang lebih hina.  Sebaliknya, orang – orang yang dihinalah yang lebih mulia.  Kalian tidak harus membalas penghinaan dengan penghinaan, bukan ? Bahkan,cara terbaik menanggapi olok-olok adalah dengan biasa-biasa saja.  Tidak perlu marah.  Tidak perlu membalas. (hal 29)
  2. Anak-anak, siklus air yang baik, lancar dan seimbang adalah siklus harmoni kehidupan alam. Tahukah kalian, banyak peradaban dunia yang megah binasa karena rusaknya siklus air.(hal82)
  3. Suatu saat, ketika kalian belajar sejarah,  di universitas misalnya, kalian akan tahu ratusan kerajaan besar hancur karena siklus air terganggu.  Lembah luas yang makmur lebur dalam semalam karena siklus air rusak.  Satu kota indah penuh peradaban tinggi hancur karena siklus air terganggu.  Lembah luas yang makmur lebur dalam semalam karena siklus rusak.  Kita berutang banyak atas siklus air yang baik.  Bahkan, keberlangsungan seluruh alam tergantung padanya.  Maka jangan pernah merusak hutan menebang pohon, merusak sungai-sungai.  (hal 82)
  4. Kalian pasti pernah mendengar kebijakan tetua ini : ‘Jangan pernah mengambil semua rebung tanpa menyisakan tunasnya untuk tumbuh lagi. Jangan pernah menyebar racun atau menjulurkan kawat setrum di sungai yang akan membuat telur dan ikan-ikan kecil juga mati.  Padahal esok lusa dari merekalah sungai akan terus dipenuhi ikan-ikan.  Jangan pernah menebus umbut rotan semuanya.  Kita selalu berusaha menjaga keseimbangan.  Jangan pernah melewati batas, atau hutan tak lagi bersahabat. (Hal 94)
  5. Bahkan sehina apapun hidup kami, aku tidak akan pernah mencuri. Ratusan kali Mamak mengajari kami tentang kehormatan keluarga.  Tidak terhitung teladan dan kalimat bijak Bapak menasihati kami tentang kejujuran dan harga diri.  Aku tidak akan pernah mencuri. (Hal 125)
  6. Anak anak, esok lusa ketika sudah besar, kalian akan menemukan segolongan orang yang pekerjaannya selalu merusak. Ketika dinasihati agar janganlah berbuat kerusakan, mereka dengan pintarnya menjawab, ‘Kami justru sedang berbuat kebaikan.  Kami membawa kesejahteraan melakukan pembangunan.’ Sejatinya merekalh perusak itu.  Esok lusa akan lebih banyak lagi orang kota rakus yang berdatangan (hal 184)
  7. Jika kalian tidak bisa ikut golongan yang memperbaiki, maka setidaknya, janganlah ikut golongan yan merusak. Jika kalian tidak bisa berdiri di depan menyerukan kebaikan, maka berdirilah di belakang. Dukung orang-orang yang mengajak pada kebaikan dengan segala keterbatasan.  Itu lebih baik. (Hal 184)
  8. Eli, kau tahu kau anak pemberani. Kau tidak mau diremehkan oleh siapa pun.  Apalagi oleh anak laki-laki.  Tapi kita hidup dalam aturan main, Nak.  Kenapa pisang harus matang setelah sekian hari di tandannya ? Kenapa lebah harus membuat madu ? kenapa air mendidih jika dipanaskan ? Kenapa mereka taat dengan aturan main yang ada.  Sekuat apapun pisang menolak matang , air tidak mau mendidih, lebah menolak membuat madu, mereka harus menurut. Itu aturan alam, sunatullah (hal 230)
  9. Jika alam saja punya aturan main, punya kaidah yang harus ditaati, apalagi dalam agama ? Eli perempuan tidak boleh adzan selama masih ada laki-laki yang pantas melakukannya (hal 230)
  10. Urusan ini bukan sekedar bilang “tidak”, Eli. Kita harus pintar, tahan banting, dan punya daya tahan menghadapi mereka.  Hanya dengan itu kita bisa memastikan seluruh warisan hutan dan kebijakan leluhur kampong bertahan puluhan tahun. (hal 420)

 

3. Si Anak Pintar (Pukat)

 

“Kau bukan Pukat si anak yang pintar…

kau lebih dari itu,

kau Pukat si anak yang genius.:

***

  1. Langit tinggi bagai dinding, lembah luas ibarat mangkuk, hutan menghijau seperti zamrud, sungai mengalir ibarat naga, tak terbilang kekayaan kampong ini. Sungguh tak terbilang.  Lantas apakah harta karun paling berharga kampong ? (Hal 336)
  2. Kitalah yang paling tahu seperti apa kita, sepanjang kita jujur terhadap diri sendiri. Sepanjang kita terbuka dengan pendapat orang lain, mau mendengar masukan dan punya sedikit selera humor, menertawakan diri sendiri.  Dengan itu semua kita bisa terus memperbaiki perangai.  Apakah kau suka pamer ? Bukan pemaaf yang baik dan pedendam seperti pemilik shio ayam ? Jawabannya hanya yang kau tahu. Kau punya sepotong benda amat berguna didalam dadamu untuk menjawabnya.  Kau pasti tahulah benda apa itu (hal 94)
  3. Teladan agama kita melarang tidak bertegur sapa dengan saudara sendiri lebih dari tiga hari. Semakin lama kau medendam, tidak mau saling memaafkan, maka hatimu semakin hitam, tidak akan mendengar nasihat, tidak terbuka lagi.  Tiga hari batas maksimal agar hatimu tidak terlanjur tertutup (hal 98)
  4. Kau tahu pukat. Hampir semua makhluk hidup bertangkar, termasuk hewan. Entah ituyang hidup di kutub sana, hingga yang ada di gurun pasir.  Itu kodrat makhluk hidup, karena memiliki sifat berbeda satu sama lain.  Terkadang tidak cocok, terkadang ada rasa cemburu, terkadang memang sudah ditakdirkan begitu agar bisa bertahan hidup.  Manusia berbeda, mereka dibekali aturan dan teladan kehidupan. (hal 98)
  5. Kiba, tidak ada yang paling menyedihkan di dunia ini selain kehilangan kejujuran, harga diri, dan martabat. Kita sudah kehilangan semuanya.  Bapak kau pergi selamanya.  Harta benda, kebun lading, pendidikan, hilang semuanya.  Berjanjilah Kiba, walau hidup kita susah, kau tidak akan pernah mencuri, tidak akan pernah merendahkan harga dirimu demi sesuap makanan.  (Hal 159)
  6. Ya Allah, wahai Yang Maha Mendengar doa-doa, lihatlah… ada tiga puluh anak – anak kampong hampa berkumpul saat ini. Sungguh, hamba mohon, beri mereka kekuatan untuk memiliki hati yang baik, hati yang dipenuhi kejujuran,tidak peduli sesulit apapun kehidupan mereka, tidak peduli seberapa jahat nafsu dan keinginan dunia ini merusak mereka (hal 163)
  7. Camkan kalimat ini , Amel. Orang orang yang bersungguh sungguh jujur, menjaga kehormatannya, dan selalu berbuat baik kepada orang lain, maka meski hidupnya tetap sederhana, tetapi terlihat biasa-biasa saja, maka dia sejatinya telah menggenggam seluruh kebahagiaan dunia. (Hal 164)
  8. Gunung runtuh, lautan mongering, awak berarak pergi. Siang menjadi malam.  Semua berubah, kecuali satu yang tidak berubah.  Nah, Pukat, apakah yang satu itu ? (Hal 176)
  9. Waktu adalah segalanya, tidak ada yang memilikinya, tidak ada yang bisa meminjamkannya. Nah, Pukat, bagaimana cara menghabiskan waktu dengan baik, tanpa beban dan tanpa keluhan ? (Hal 177)
  10. Kau tahu kenapa kebanyakan orang menganggap kecantikan seorang perempuan lebih penting dibandingkan perangai yang baik ? Wak yati menatap kak eli lembut. Karena di dunia ini lelaki bodoh jumlahnya lebih banyak dibandingkan lelaki buta.

 
4. Si Anak Special (Burlian)

“Kenapa Bapak dan Mamak sejak kecil selalu bilang,

 “Kau special, Burlian?” Itu cara terbaik bagi

Bapak dan Mamak untuk menumbuhkan

Percaya diri dan keyakinan yang

Menjadi pegangan penting

Setiap kali terbentur masalah,

Kau selalu special

  1. Ini kampong kita. Hutan ini juga hutan leluhur kita.  Kitalah yang seharusnya memilikinya.  Bukan orang-orang kaya dari kota.  Sekarang mereka mencari minyak tanah, besok lusa merek menebangi hutan untuk dijadikan kebun kelapa sawit.  Sampai habis seluruh hutan, sampai kita mencari sepotong kayu bakar saja tidak bisa lagi, apalagi berburu aya liar, mengambil rotan, rebung, dan sebagainya.  Oi, hanya gara- gara uang berbilang dua ratus ribu saja kalian mau mengizinkan mereka mengebom tanah-tanah kita ? (Hal 11)
  2. Dan kautahu satu rahasia kecil, Burlian ? Wanita cantic selalu sukapada lelaki yang pintar memasak. (Hal 72)
  3. Esok lusa, ketika kesempatan membawa kau pergi jauh dari kampong ini, membuat kau menjadi orang yang hebat diluar sana, maka jangan pernah melupakan asal kau (Hal 74)
  4. Kau tahu hal yang paling menyakitkan dari sekedar menjadi pekerja kasar ? Yaitu ketika tidak ada ang menghargai apa yang telah kau kerjakan. (Hal 84)
  5. “Kau tahu, mijn lieve, yang jahat dari berjudi bukan soal kehilangan urang Proses judi itu  sendirilah yang jahat.  Judi seolah memberikan jalan pintas, angan – angan indah.  Seolah – olah kau beli selembar SDSB seribu rupiah, besok kau otomatis dapat setengah juta. (Hal 97)
  6. Karena seorang pemimpin memegang baik-buruk nasib orang- orang yang dipimpinnya . (Hal 119)
  7. Pak bin bilang sekolah bukan hanya tempat belajar menulis dan membaca. Sekolah juga tempat belajar banyak hal.  Dengan sekolah akan banyak kesempatan yang datang, masa depan yang lebih baik, kesenangan, keriangan. Jangan pernah berhenti percaya tentang itu (Hal 147)
  8. Jangan pernah membenci mamak kau, Burlian. Jangan pernah.  Karena jika kau tahu sedikit saja apa yang telah dia lakukan demi kau, Amelia, Kak Pukat, dan Kak Eli, maka yang kau tahu itu sejatinya belum sepersepuluh dari pengorbanan , ras cinta, serta rasa sayangnya kepada kalian (hal 205)
  9. Sepeda baru kau. Cincin kau Mamak gadaikan untuk membeli sepeda baru kau.  Enam bulan lalu, waktu kau menangis marah-marah, berteriak bilagn Mamak bohong, Mamak tidak menepati janji, esok harinya Mama memutuskan membawa cincin itu ke Kota. Mamak menggadaikan cincin ke toko Koh Acan.  Kau tahu, Burlian, bagi Mamak, kau adalah segalanya (hal 217)
  10. Tetapi kau.. Mamak akan melakukan apa saja untuk membuat kau senang. Maka mamak ringan hati menggadaikan cincin kawin demi kau.  Cincin yang sekarang entah hilang kemana. (Hal 217)

 
5. Si Anak Kuat (Amel)

 “Kau anak paling kuat di keluarga ini, Amel.

Itu benar sekali.  Bukan kuat secara fisik,

Tapi kuat dari dalam. Kau adalah

Anak yang paling teguh hatinya,

Paling kokoh dengan

Pemahaman baik.”

 

  1. Kau hanya perlu sedikit menerima kenyataan tersebut, maka kau akan paham. (hal 70)
  2. Itulah salah satu jawaban kenapa kemiskinan, keterbatasan, bisa dikalahkan dengan ilmu penetahuan, tentu kerja keras menjadi syarat utama. Akan tetapi , jika ditambah sedikit ilmu pengetahuan, petani kampong kita bisa hidup lebih makmur dan berkecukupan. (Hal 82)
  3. Sama saja, Burlian. Jika yang kita percakapkan itu enar, jatuhnya tetap bergunjing.  Jika hanya desas desus, itu termasuk fitnah keji.  Mamak menjawab tangkas.  Nah , kau jelas tidak mau bukan ,Burlian, misalnya aib kau mengompol sebulan lalu dibincangkan di meja makan keluarga lain ? Itu juga fakta. ( hal 99)
  4. Nah, maka jangan terlalu kaupikirkan tradisi itu. Kaupikirkan saja besok lusa kau akan menjadi apa.  Mulai sekarang pikirkan sekarang.  Tegakkan pohon cita-cita kau setinggi mungkin.  Jangan ragu – ragu,  langit adalah batasnya.  Siapa pun bisa menggapai mimpi jika bersungguh – sungguh.  Termasuk anak anak dari kampong di lembah terpencil sekalipun. (hal 106)
  5. Coba kau bayangkan, Meisje . Jika seluruh anak-anak pintar seperti Kak Eli, Burlian, Pukat, juga kau memilih pergi ke kota, siapa yang akan mengurus kampong kita ? Siapa yang akan membuat kampong ini maju ? Membuat penduduknya lebih makmur ? Berpuluh tahun lembah ini tetap begini-begini saja, tidak banyak berubah. Diwariskan turun-temurun dengan segala keterbatasan. Ketika semua anak pintar memilih tinggal di kota, kampong akan berkembang dengan lambat. Nah, kenapa harus anak bungsu ? Karena anak bungsulah yang paling dekat secara emosional dengan orangtua. (Hal 107)
  6. Lagi pula dengan tetap tinggal di kampong, bukan berarti seseorang tidak bisa melakukan hal besar. Karena besar-kecil sebuah perbuatan tidak semata-mata dilihat dari ukuran kasatmata, melainkan juga diukur dari hal yang tidak terlihat (Hal 107)
  7. Ketika kau menolong seorang anak yang kelaparan misalnya. Mungkin itu perbuatan kecil,  hanya satu anak, apalah artinya.  Tetapi bagi anak itu jelaslah perbuatan besar.  Dia diselamatkan dari laparnya.  Kaidah agama bilang, menyelamatkan satu orang sama dengan menyelamatkan seluruh orang di dunia. (Hal 107)
  8. Dunia orang dewasa tidak selurus dunia anak-anak yang lima menit bertengkar, lima menit kemudian sudah kembali bermain bersama. Kau tahu, dunia orang dewasa bagai sebutir bawang merah, berlapis-lapis oleh ego, keras kepala oleh argument, bertumpuk pembenaran dan hal hal yang boleh jadi tidak akan kau pahami sekarang. (Hal 138)
  9. Lima kuntum Bunga Matahari
    Aku punya lima kuntum bunga matahari
    Kupetik dari datarantinggi
    Susah Payah butuh berhari – hari

    Dan hanya kudapat lima bunga
    Tetapi tidak mengapa, Ini sudah cukup
    Satu kuntum akan kuberikan kepada mamakku
    Terima kasih merawatku sejak kecil

    Satu kuntum akan kuserahkan kepada bapakku
    Terima kasih memberiku teladan dan pengertian

    Satu kuntum akan kusampaikan kepada kakak-kakakku
    Terima kasih menjagaku dengan baik
    Satu kuntum akan kuberikan kepada guru-guruku
    Terima kasih mengajariku agar berbudi
    Satu kuntum terakhir untuk teman-temanku
    Terima kasih menemaniku dalam suka maupun duka
    Sungguh terima kasih

  10. Guru guru dulu punya banyak keterbatasan, tetapi terus mengajar dengan baik dan semangat. Maka, hari ini, tidak boleh ada lagi keterbatasan di lembah ini.  Anak – anak lembah berhak atas pendidikan terbaik.  Aku akan memastikannya.  Penduduk lembah juga berhak atas kehidupan yang lebih layak dan berkecukupan.  Aku akan membantu mereka. (Hal 393)